Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 November 2012

BERPIKIR TENTANG PEMUDA


DIMANA PEMUDA BANGSA?
KEMANA ARAH PERJUANGAN MAHASISWA?

Oleh : Rela Mutiara Risdianti
"Aku Masih Belum Memberi Solusi"
Sejarah mengakui bagaimana peran serta pemuda dalam kehiduapan bangsa ini, sejak masa penjajahan, pra dan pasca kemerdekaan hingga bergulirnya reformasi peran pemuda begitu dominan dalam penentuan arah kehidupan bangsa ini. Pemuda yang secara hakiki merupakan calon penerus bangsa yang jujur, kritis , berahlak dan dapat dipecaya, maka tidak salah jika kemudian Soekarno bilang bahwa “Kejayaan suatu bangsa adalah keyakinan Pemuda” karena kenyataannya tongkat estafet bangsa memang berada ditangan kaum muda yang nantinya akan memagang nahkoda kemana kelak bangsa ini akan dibawa dan dimana kelak bangsa ini akan beralabuh, semuanya dibebankan kepada para kaum muda yang menjadi harapan besar. Dalam hal ini sudah jelas bagaimana tanggung jawab besar itu harus di jawab oleh para kaum muda, bagai mana mereka mengaktualisasi diri dari peran hakiki meraka juga dari apa yang diharapkan para kaum terdahulunya.
Sadar akan posisi pemuda yang begitu kompleks dalam kehidupan bernegara tentu memberikan pertanyaan tersendiri bagaimana para pemuda memainkan perannya. Gerakan kepemudaan atau Organisasi Kepemudaan, menjadi jawaban sekaligus wadah bagi para kaum muda untuk mejawab tantangan dan harapan tersebut. Para pendahulu kita memang sudah memberikan warisan tentang napas hidup kaum muda dalam kehidupan berbangsa, sejak 28 Oktober 1928 sebuah keyakinan besar lahir bagaimana para kaum muda berkonsolidasi untuk menentukan arah perjuangannya, akan tetapi kita selaku kaum muda tidak boleh terjebak dalam sebuah penomena besar bangsa dimana napas perjuangan kita hanya berkobar manakala 28 Oktober itu menyapa, jangan terjebak dalam rutinitas memperingati tanpa memahami esensi nilai yang terkandung di dalamanya, karena kalau tidak yang terjadi adalah kesalahan penafsiran tentang esensi nilai-nilai kebenaran yang suda diajarkan para pendahulu kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Posisi pemuda yang subordinat dari Negara, akhir-akhir ini justru menjadi bumerang besar dalam kehidupan berbangsa kaum muda. Hal ini terjadi karena tidak adanya pemahaman tentang peran dan fungsi sesungguhnya para kaum muda dan kemudian yang terjadi adalah kesalah kaprahan dalam memahami hakekat dan posisinya, pemuda mencoba mengambil jarak dengan Negara untuk kemudian melakukan peran-peran antagonisnya dengan alasan demokrasi. Penomena dinamika gerakan kepemudaan kini menjadi rancu alasan demokratisasi menjadi tameng untuk menjadikan pembenaran yang meraka lakukan menjadi sebuah kebenaran mutlak. Setali tiga ikat dengan masalah kepemudaan oraganisasi pergerakan mahasiswa juga mengalami penyakit yang sama, karena memang pada intinya keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mahasiswa adalah bagian dari pada pemuda yang juga memiliki napas perjuangan yang sama keduanya terjebak dalam peran subordinat bernegara yang membuat kehilangan keyakinan, kesabaran dan kejujuran peran hakikipun terlupakan.

        Dunia pergerakan mahasiswa setelah bergulirnya reformasi memang mengalami perubahan yang begitu signifikan, perubahan ini tentu tidak terlepas dari kehidupan mahasiswa yang pada saat ini berada dalam suasana keprihatinan karena berbagai hal seperti maraknya peredaran obat-obat terlarang, freesex dan prilaku negative lainya di kalangan mahasiswa. Sangat memprihatinkan, ketika semua harapan bangsa tertumpu pada kaum muda, tapi mereka justru merusak harapan tersebut, lalu dimana pemuda bangsa ini berada dan mempertanggung jawabakan napas perjuangan yang sudah diberikan para pendahulunya namun disalah gunakan. Ancaman selanjutnya juga dari arus besar berbagai gagasan-gagasan dan aktivitas para mahasiswa yang bergitu beragam dan bahkan sangat radikal.

Mahasiswa menjadi hilang ingatana seolah lupa terlena oleh arus global dan isu demokrasi yang sekarang seolah menjadi raja dalam pemahaman mereka, fungi mahasiswa sebagai agent of contol sosial di jalankan sesaui kehendak, tak jarang mahasiswa terjebak dalam sebuah dinamika yang memaksa mereka melakukan tindak pembenaran yang kemudian menjadi sebuah pemahaman mutlak tanpa menilai subyektifitas yang terkandung didalamnya. Kembali kepada pemahaman awal bahwa mahasiswa adalah harapan bangsa yang dianggap mampu membawa perubahan seperti apa yang sejarah tuliskan, tapi ketahuilah seseungguhnya perubahan itu merupakan bagian dari kehendak dan tuntutan masyarakat. Jika soekarno kepanjangan dari tangan rakyat pada saat ini keterwakilan rakyat berada ditangan para mahasiswa dan kaum muda yang memiliki posisi subordinat Negara. Memang napas perjuangan para kaum muda sejak dulu adalah aspirasi dari masyarakat tuntutan dalam perjuanganpun tidak terlepas dari keinginan terwujudnya masyarakat adil makmur sesuai apa yang tercantum dalam kitab bangsa Indonesia. Hal ini kemudian diaktualisasikan oleh kaum muda dalam sebuah tindakan ikut serta dalam permainan politik bangsa, suatu hal yang wajar namun dalam implementasinya terjadi indikasi yang justru menghawatirkan. Dominasi orientasi politik dalam tubuh organisasi kaum muda menjadikan kontroversi yang menimbulkan berbagai pertanyaan bahkan paradigma negatif dimata masyarakat dimana setiap kali ada pergerakan yang dilakukan dianggap sebagai salah satu tindakan politik yang ditunggangi suatu kepentingan, dan pada saat itulah krisis kepercayaan pada masyarakat terhadap kaum muda memudar, pergerakan mereka dianggap suatu tindakan sia-sia yang tidak memberikan kontribusi apapun bahkan justu mereka mengagap aksi-aksi yang dilakukan parakaum muda adalah tindakan pembodohan, pada saat inilah sesungguhnya profesionalitas para kaum muda sedang di uji. Para kaum muda harus bisa mengidentifikasi kembali sebesar apa Idealisme perjuangan mereka saat ini, untuk apa aksi demontrasi yang meraka lakukan dalam setiap tindakan perjuangan yang mereka lakukan, jangan sampai mahasiswa ataupun pemuda Indonesia terjebak dalam suatu penomena dimana apapun yang mereka lakukan tentang pejuangan atas apa yang rakyat tuntut harus juga memberikan kontribusi terhadap kehidupan mereka, yang pada akhirnya nilai Idealisme yang mereka junjung berubah jadi sebuah nilai pragmatisme yang nantinya akan mengahancurkan jati diri dan arah perjuangan mahasiswa sesuai apa yang di cita-citakan para pendahulu kita.
Selain permasalah tersebut, permasalahan yang terbesar adalah hilangnya rasa kepedulian yang berorientasi pada nilai Apatisme para kaum muda. Mahasiswa hanya mementingkan Axsistensi ketika mereka terjun atau masuk organisasi pergerakan tanpa melihat terlebih dahulu esenis yang terkandung dalam tubuh organisasi yang mereka ikut, mereka menjadi sombong dan membanggakan Idiologi yang ada dalam tubuh organisasi mereka, yang terjadi kemudian pengelompokan mahasiswa sesuai organisasi yang mereka ikuti tak ada lagi kata kami dalam kamus perjuangan pemuda dan mahasiswa Indonesia, sekali lagi egoisme atas pembenaran nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi mereka lebih menjadi prioritas utama. Orientasi politik organisasi kepemudaan dan mahasiswa juga terlihat dari keyakinan akan fungsinya sebagai kawah candradimuka dimana mereka cenderung lebih mengutamakan perekrutan kader-kader untuk melakukan tindakan pembinaan politik semata dengan dokterin Idiologi mereka, yang ada setelah itu kemudain tumbuh kadar-kader yang hanya mampu menyatakan pernyataan politik dibanding kepeduliannya terhadapa keadaan sosial dimasyarakat, prioritas utama bukan lagi kemasyalahatan umat akan tetapi lebih kepada kepentingan politik kelompok atau individualis itu sendiri, tidak ada yang salah karena memang generasi muda saat ini sudah dipersiapkan sebagai calon-calon politisi bukan pejuang bangsa orientasi inilah yang kemudian akan menjadi benang merah dalam kesejarahan perjuangan kaum muda menjadi kusut.
Dinamika kehidupan kepemudaan dan kemahasiswaan memang selalu menarik untuk di cermati terlebih kini marak pemahaman pragmatisme yang tumbuh dalam tubuh pemuda Indonesia mengutip perkataan salah dosen STISIP Setia Budhi bapak Harits yang menyatakan bahwa “Banyak sekali calon-calon koruptor ketika nilai pragmatisme sudah tumbuh dalam tubuh mahasiswa” kata-kata itu menjadi sebuah pembuktian adanya kemirisan terhadapa kehidupan kedepannya para generasi muda yang akan memengang nahkoda bangsa tercinta ini. Sebagai mahasiswa kita semua tentunya tidak pernah ingin terjadi disorientasi sikap masyarakat terhadap peran pungsi kita sesungguhnya. Sudaha saatnya kita bangkit untuk menjawab harapan masyarakat dan kembali kepada napas perjuangan para pendahulu kita yang tentunya juga dengan mempertimbangkan perubahan sosial yang terjadi, sudah saatnya nilai apatisme dan prgamatisme kita lebur dengan Idealisme perjuangan agar kita selaku mahasiswa yang merupakan kaum muda generasi penerus bangsa tidak terjebak dalam keadaan ketidak pastian atau kegalauan akan hari esok dan masa depan yang akan kita temui. Sudah saatnya kita memperlihatkan dimana keberadaan kita selaku pemuda, dan sudah saatnya kita sebagai mahasiswa kembali bejuang tentunya dengan berpegang teguh kepada Tri Dharma perguruan tinggi.
“Hidup Mahasiswa Indonesia, Jaya Pemuda Indonesia, Bahagia Bangsa Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yakin Usaha Sampai