Secara konstitusional seluruh warga negara terikat ke dalam proses
transformatif, baik dalam membangun sistem pengembangan maupun pertahanan yang
menyangkut sistem kesejahteraan itu sendiri melalui hak dan kewajibannya
sebagai warga Negara. Sehingga disela perjalanan kehidupan berbangsa dan
bernegara.Tonggak kepemimpinan akan terus di estafetkan, tak perduli dengan
semua keadaan suatu bangsa
kepeminpinan itu akan terus berjalan. Kesadaran akan adanya beban moral yang
nantinya menjurus kepada tata pengelolaan Negara atau pemerintah yang
memerlukan seorang peminpin yang baik yang mampu menjalankan roda pemerintahan,
harus digalangkan sejak dini agar tidak terjadi krisis kepeminpinan.
Mahasiswa sebagai salah satu pemegang estafet
kepeminpinan tentu miliki tanggung jawab tersendiri terhadap bangsa ini, karena
sesungguhnya dunia kemahasiswaan merupakan tahapan akhir bagi seorang manusia
untuk menginvestasi dirinya dalam pranata pendidikan formal dan tahap akhir
penggodokan calon peminpin bangsa melalui jalur pendidikan formal, dalam hal
ini sudah sepatutunya mahasiswa memiliki ruang gerak dalam mengaktualisasi dan
mematangkan diri dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat dan salah
satu kewajiban para mahasiswa yang paling mendasar adalah bagai mana
mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Indonesia krisis kepeminpinan, entah hanya sebuah Isue atau memang realitas yang ada dilapangan, saat ini memang tidak adal sosok yang bisa dijadikan motivator yang handal khusunya untuk kader-kader pemerintahan tapi ketahuilah sesungguhnya motivator itu bukan terlahir pada sosok goverment yang saat ini sedang mengendali roda, tapi motivator terbesar mahasisa ilmu pemerintahan adalah merek ayang duduk dipinggir jalan dan tertidur di selah,selah gang mereka yang haus akan keadalian dan kesejah teraan dan merindukan sosok peminpin yang benar-benar memperjuangkan hak mereka, mereka yang rindu sosok Good Goverment.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yakin Usaha Sampai